Rabu, 03 Juli 2013

Makalah Demam Berdarah ^_^


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Penyakit Dengue maupun penyakit demam berdarah Dengue adalah penyakit infeksi yang banyak dan sering berjangkit di daerh tropis, termasuk penyakit infeksi Tropis. (Tropic Infection). Masalah kesehatan di tentukan oleh faktor perilaku dan faktor non perilaku (lingkungan dan pelayanan). Perbaikan lingkungan fisik dan peningkatan lingkungan sosio budaya serta peningkatan pelayanan kesehatan diperlukan agar masyarakat menjadi sehat.
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopyctus. Faktor – faktor  yang mempengaruhi kejadian Demam Berdarah Dengue sangat kompleks, antara lain iklim dan pergantian musim, kepadatan penduduk, mobilitas penduduk dan transportasi.
Berdasarkan kejadian dilapangan dapat diidentifikasikan factor utama adalah kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal. Sehingga terjadi genangan air yang menyebabkan berkembangnya nyamuk. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin meluas.
Penyakit DBD sering berakibat fatal akibat penanganannya yang terlambat. Demam Berdarah Dengue (DBD) disebut juga dengue hemorrhagic fever (DHF), dengue fever (DF), demam dengue (DD), dan dengue shock syndrome (DSS).
Di Indonesia, penyakit DBD termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Sampai saat ini DBD di Indonesia masih merupakan penyakit yang sering berjangkit merupakan penyakit musiman. Seperti penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi di Sleman akibat kesadaran warga akan pentingnya kebersihan lingkungan mulai mengendur. Terlebih di lingkungan huntara maupun huntap wilayah Gondang I yang  rawan genangan air sehingga memicu berkembangnya jentik-jentik nyamuk.
Demam Berdarah Dengue mulai menyerang penghuni selter Gondang I cangkringan Kabupaten Sleman. Dalam beberapa minggu ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat bahwa ada tiga warga penghuni selter positif terjangkit DBD, sedangkan belasan warga lainnya juga mengalami gejala yang sama menyerupai kasus penyakit DBD. Secara teoritis ada 4 cara untuk memutuskan rantai penularan demam berdarah dengue, yaitu: melenyapkan virus, isolasi penderita, mencegah gigitan nyamuk dan pengendalian vector. Untuk pengendalian vector dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan cara kimia dan pengelolaan lingkungan, salah satunya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk. Namun, hingga saat ini masih belum optimal.
Banyaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah gondang I perlu diketahui bagaimana gejala DBD, gejala penularan DBD, faktor-faktor penyebab penyakit dan dibutuhkan cara untuk menanggulangi, membrantas, dan mencegah agar tidak bertambahnya penderita DBD.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana gejala penularan DBD?
2.      Apa gejala umum penderita DBD?
3.      Apa saja faktor-faktor penyebab penyakit DBD?
4.      Bagaimana proes penyembuhan DBD?
5.      Bagaimana cara menanggulangi, membrantas, mencegah agar tidak bertambah penderita DBD?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui gejala penularan DBD
2.      Mengetahui gejala umum penderita DBD
3.      Mengetahui faktor-faktor penyebab penyakit DBD di wilayah Gondang I
4.      Mengetahui proses penyembuhan penyakit DBD
5.      Mengetahui cara mencegah penyakit DBD


BAB 2 PEMBAHASAN

            2.1 Definisi Demam Berdarah Dengue
            Demam berdarah dengue adalah penyakit demam yang berlangsung akut menyerang baik orang dewasa maupun anak-anak berusia dibawah 15 tahun, disertai dengan pendarahan dan dapat menimbulkan syok yang dapat menyebabkan kematian penderita.
 Demam Dengue (DD) atau Dengue Fever (DF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegepty, sedangkan Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhaege Fever (DHF) juga penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang disertai manifestasi perdarahan dan cenderung menimbulkan shock dan kematian.
Menurut Webmaster, penyakit demam berdarah adalah infeksi yang disebabkan oleh virus. Di Indonesia hanya terdapat 2 jenis virus penyebab demam berdarah yaitu virus dengue dan virus chikungunnya.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), yang disebabkan oleh virus dengue, yang dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan yang dapat menimbulkan kematian.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah.

2.2 Gejala Penularan Demam Berdarah Dengu (DBD)
            Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B, yaitu arthropad-borne virus atau virus yang disebabkan oleh arthropoda. Virus ini termasuk genus Flavivirus dari famili Flavivirade. Flavivirus ini berukuran diameter 40 nanometer, dapat berkembang biak dengan baikpada berbagai macam kultur jaringan. Baik yang berasal dari sel-sel mamalia misalnya BHK (Baby Hamster Kidney) maupun sel-sel arthropoda misalnya sel Aedes albopictus.
Ada empat tipe yaitu virus dengue tipe 1, 2, 3, dan 4. Serotipe DEN-3 merupakan jenis yang dihubungkan dengan kasus-kasus parah. Infeksi oleh salah satu serotipe akan menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang bersangkutan, tetapi tidak untuk serotipe yang lain. Keempat jenis virus tersebut semuanya terdapat di Indonesia. Di daerah endemik DBD,seseorang dapat terkena infeksi semua serotipe virus pada waktu yang bersamaan.
            Epidemiologi dengue disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu virus, manusia, nyamuk.
Gambar.1 Cara penularan DBD dari nyamuk ke manusia

            Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (di daerah perkotaan/ urban) maupun Aedes Albopictus (di daerah pedesaan/ rural). Nyamuk yang menjadi vektor penyakit DBD adalah nyamuk yang menjadi terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya). Virus dapat pula ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke telur-telurnya.

Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama dalam kelenjar air liurnya, dan jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue akan dipindahkan bersama air liur nyamuk. Dalam tubuh manusia, virus ini akan berkembang selama 4-7 hari dan orang tersebutakan mengalami sakit demam berdarah dengue. Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan berada dalam darah selama satu minggu. Cara penularannya seperti pada gambar 1.
 
Gambar 2. Daur Hidup Nyamuk AEDES AEGYPTI
Bionomik vektor meliputi kesenangan tempat perindukan nyamuk, kesenangan nyamuk menggigit dan kesenangan nyamuk istirahat diantaranya:
1.       Kesenangan tempat perindukan nyamuk
Tempat perindukan nyamuk biasanya berupa genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana. Nyamuk Aedes tidak dapat berkembangbiak digenangan air yang langsung bersentuhan dengan tanah.
Macam-macam tempat penampungan air:
a.        Tempat penampungan air (TPA), untuk keperluan sehari-hari seperti: drum, bak mandi/WC, tempayan, ember dan lain-lain
b.       Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minuman burung, vas bunga, ban bekas, kaleng bekas, botol bekas dan lain-lain
c.       Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang, potongan bambu dan lain-lain (Depkes RI, 1992).
2.       Kesenangan nyamuk menggigit
Nyamuk betina biasa mencari mangsanya pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari, dengan puncak aktivitasnya antara pukul 09.00-10.00 dan 16.00-17.00. Berbeda dengan nyamuk yang lainnya, Aedes aegypti mempunyai kebiasaan menghisap darah berulang kali (multiple bites) dalam satu siklus gonotropik untuk memenuhi lambungnya dengan darah.
3.      Kesenangan nyamuk istirahat
Nyamuk Aedes hinggap (beristirahat) di dalam atau kadang di luar rumah berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya, biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Di tempat-tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telur. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakan telurnya di dinding tempat perkembangbiakannya, sedikit di atas permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ± 2 hari setelah telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur tersebut dapat bertahan sampai berbulan-bulan bila berada di tempat kering dengan suhu -2ºC sampai 42ºC, dan bila di tempat tersebut tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapa menetas lebih cepat (Depkes RI, 2005).
Gambar 3. Nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan air bersih yang terdapat pada bejana-bejana di dalam rumah maupun di luar rumah. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah:
a.       Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih
b.      Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah
c.       Jarak terbang ± 100 m dan nyamuk betina bersifat multiple biters
d.      Tahan dalam suhu panas dan kelembaban tinggi

2.3 Gejala Umum Penderita DBD
Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat menyerang anak usia sekolah maupun orang dewasa, ditandai dengan gejala awal yaitu:
a.       Demam mendadak serta timbulnya tanda dan gejala klinis yang tidak khas.
b.      Terdapat kecenderungan terjadinya shock yang berakibat kematian
Hemostatis yang abnormal dan kebocoran plasma adalah merupakan perubahan patofisiologis yang paling mencolok disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi merupakan temuan yang selalu ada.
Gejala umum Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi sebagai berikut:
a.       Demam Tinggi
b.      Fenomena pendarahan Hepatomegali
c.       Sering disertai kegagalan sirkulasi atau trombositopenia ringan atau sedang yang disertai hemokonsentrasi.
Perubahan patofisiologis utama menentukan derajat penyakit DBD. DBD biasanya diawali dengan meningkatnya suhu tubuh secara mendadak disertai dengan memerahnya kulit muka dan gejala klinik tidakkhas lainnya seperti:
a.       Tidak nafsu makan
b.      Muntah
c.       Nyeri kepala
d.      Nyeri otot dan persendian
Keluhan-keluhan beberapa pasien DBD antara lain:
a.       Nyeri tenggorok dan pada pemeriksaan faring
b.      Rasa tidak enak di daerah epigastrum
c.       Nyeri tekan pada lengkung iga kanan
d.      Rasa nyeri perut yang menyeluruh
e.       Suhu badan tinggi mencapai 40º Celsius berlangsung selama 2-7 hari, dan kemudian menjadi normal atau subnormal dan dapat disertai kejang demam
Manifestasi Klinis menurut WHO
Kasus DBD ditandai oleh empat manifestasi klinis yaitu:
a.       Demam tinggi
b.      Perdarahan terutama perdarahan kulit hepatomegali
c.       Kegagalan peredaran darah
Pada tahun 1975 WHO menyusun patokan dalam diagnosis klinis pada penderita DBD yaitu:
1.      Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari
2.      Manifestasi perdarahan termasuk setidak-tidaknya uji Tourniquet positif dan salah satu bentuk lai  seperti petikia, purpuria, ekinosis, epitaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena
3.      Pembesaran hati
4.      Tanpa atau disertai renjatan
5.      Trombositopenia
6.      Hemokonsentrasi yang dapat ditafsikan dengan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20% atau lebih dibandingkan nilai hematokrit pada masa konvalessen
Gambaran Klinik
Masa Inkubasi
            Sesudah nyamuk menggigit penderita dan memasukkan virus dengue kedalam kulit, terdapat masa laten yang berlangsung 4-5 hari diikuti oleh demam, sakit kepala dan malaise.
Demam
            Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2-7 hari kemudian turun menjadi suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsungnya demam, gejala-gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia, nyeri punggung, nyeri tulang, dan persendian, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyertainya.
Perdarahan
            Perdarahan biasanya terjadi pada harikedua dari demam dan umumnya terjadi pada kulit.
Hepatomegali
            Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba meskipun pada anak kekurangan gizi, hatipun sudah teraba. Bila terjadi peningkatan dari hepatoegali dan hati teraba kenyal,harus di perhatikan kemungkinan akan terjadinya renjatan pada penderita.
Renjatan (syok)
            Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ketiga sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan dan jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. Nadi menjadi lembut dan cepat, kecil bahkan sering tidak teraba. Tekanan darah sistolik akan menurun sampai di bawah angka 80 mmHg. Manifestasi renjatan pada anak terdiri atas:
a.       Kulit pucat, dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, tangan, dan hidung
b.      Kuku menjadi biru, kegagalan sirkulasi insufien yang menyebabkan peninggian aktifitas simpatikus secara refleks
c.       Apati,sopor, dan koma akibat kegagalan sirkulasi serebral.
d.      Tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang
e.       Tekanan sistolik pada anak turun menjadi 80 mmHg atau kurang.
f.       Ologuria sampai anuria karena menurunnya perfusi darah yang meliputi arteri renalis.
Pembesaran Hati
            Hati yang membesar pada umumnya dapat diraba pada permulaan penyakit dan pembesaran hati ini tidak sejajar dengan berat penyakit. Nyeri tekan sering kali di temukan tanpa disertai ikterus.
            Hati pada anak berusia 4 tahun dan atau lebih dengan gizi baik biasanya tidak dapat diraba. Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada anak yang hatinya semula tidak dapat diraba pada saat masuk rumah sakit dan selama perawatan hatinya menjadi lebih dan kenyal, karena keadaan ini menunjuk ke arah erjadinya renjatan. Pembasaran hati dilaporkan ditemukan sekitar 64,4% pada bagian anak di rumah sakit.
            Menurut WHO (1997) yang memberi pedoman untuk membantu menegakkan diagnosis DBD secara dini disamping menentukan derajat beratnya penyakit.
Klinis Berat Penyakit
1.      Demam mendadak tinggi
2.      Derajat I : demam dengan uji bendung +
3.      Perdarahan (termasuk uji bendung +)
4.      Derajat II, derajat I + perdarahan spontan seperti petekie, epitaksis, hematemesis, dan lain-lain
5.      Derajat III: nadi cepat dan lemah, tekanan darah tak terukur
6.      Derajat IV : syok berat, nadi tak teraba
7.      Syok : nadi kecil dan cepat
Gejala Klinik Lain
            Nyeri epigastrum, mual, batuk, Atropapil, muntah-muntah, diare, maupun obstipasi dan kejang-kejang. Keluhan nyeri perut yang hebat seringkali menunjukan akan terjadinya perdarahan gastrointestinal dan syok.
Diagnosa Laboratoris
a.       Trombositopeni pada hari ke-3 sampai ke-7 ditemukan penurunan trombosit hingga 100.000 /mmHg.
b.      Hemokonsentrasi, meningkatnya hematrokit sebanyak 20% atau lebih

Gambar 4. Pelana Kuda Derajat DBD
Derajat Penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue)
Derajat I (Ringan)
a.       Bila Demam mendadak 2-7 hari yang disertai gejala klinis tidak khas
b.      Satu-satunya gejala perdarahan yang paling ringan adalah hasil uji tourniquet yang positif
Derajat II (Sedang)
            Gejala yang timbul pada DBD  derajat I di tambah perdarahan spontan biasanya dalam bentuk perdarahan kulit atau perdarahan lainnya. Epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena. Terdapat gangguan sirkulasi darah perifer yang ringan berupa kulit dingin dan lembab, ujung jari dan hidung dingin.
Derajat III (Berat)
            Kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan: denyut, nadi yang cepat dan lemah. Menyempitnya tekanan nadi 20 mmHg atau kurang atau hipotensi, ditandai dengan kulit dingin dan lembab serta kondisi pasien menjadi gelisah
Derajat IV (Berat Sekali)
Syok DSS (Dengue Shock Syndrome) berat dengan tidak terabanya denyut nadi maupun tekanan darah yang tidak terukur. 


2.4 Faktor-Faktor Penyebab DBD di Wilayah Gondang I
            Timbulnya penyakit DBD ditengarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tapi akhir-akhir ini ada tendensi agen  penyebab DBD di setiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik,selain faktor genetik dari hospesnya. Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue), antara lain:
a.       Faktor Host yaitu kerentaan (susceptibility) dan respons imun
Host adalah manusia yang peka terhadap infeksi virus dengue. Beberapa faktor yang mempengaruhi manusia adalah:
1.      Umur
Umur adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kepekaan terhadap infeksi virus dengue. Semua golongan umur dapat terserang virus dengue, meskipun baru berumur beberapa hari setelah lahir. Saat pertama kali terjadi epdemi dengue di Gorontalo kebanyakan anakanak berumur 1-5 tahun. Di Indonesia, Filipina dan Malaysia pada awal tahun terjadi epidemi DBD penyakit yang disebabkan oleh virus dengue tersebut menyerang terutama pada anak-anak berumur antara 5-9 tahun, dan selama tahun 1968-1973 kurang lebih 95% kasus DBD menyerang anak-anak di bawah 15 tahun.
2.       Jenis kelamin
Sejauh ini tidak ditemukan perbedaan kerentanan terhadap serangan DBD dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin (gender). Di Philippines dilaporkan bahwa rasio antar jenis kelamin adalah 1:1. Di Thailand tidak ditemukan perbedaan kerentanan terhadap serangan DBD antara laki-laki dan perempuan, meskipun ditemukan angka kematian yang lebih tinggi pada anak perempuan namun perbedaan angka tersebut tidak signifikan. Singapura menyatakan bahwa insiden DBD pada anak laki-laki lebih besar dari pada anak perempuan.
3.      Nutrisi
Teori nutrisi mempengaruhi derajat berat ringan penyakit dan ada hubungannya dengan teori imunologi, bahwa pada gizi yang baik mempengaruhi peningkatan antibodi dan karena ada reaksi antigen dan antibodi yang cukup baik, maka terjadi infeksi virus dengue yang berat.
4.      Populasi
Kepadatan penduduk yang tinggi akan mempermudah terjadinya infeksi virus dengue, karena daerah yang berpenduduk padat akan meningkatkan jumlah insiden kasus DBD tersebut.
5.      Mobilitas penduduk
Mobilitas penduduk memegang peranan penting pada transmisi penularan infeksi virus dengue. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran epidemi dari Queensland ke New South Wales pada tahun 1942 adalah perpindahan personil militer dan angkatan udara, karena jalur transportasi yang dilewati merupakan jalur penyebaran virus dengue (Sutaryo, 2005).
b.      Faktor lingkungan (environtment) yaitu kondisi geografi (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim)
1.       Letak geografis
Penyakit akibat infeksi virus dengue ditemukan tersebar luas di berbagai negara terutama di negara tropik dan subtropik yang terletak antara 30º Lintang Utara dan 40º Lintang Selatan seperti Asia Tenggara, Pasifik Barat dan Caribbean dengan tingkat kejadian sekitar 50-100 juta kasus setiap tahunnya (Djunaedi, 2006). Infeksi virus dengue di Indonesia telah ada sejak abad ke-18 seperti yang dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda. Pada saat itu virus dengue menimbulkan penyakit yang disebut penyakit demam lima hari (vijfdaagse koorts) kadang-kadang disebut demam sendi (knokkel koorts). Disebut demikian karena demam yang terjadi menghilang dalam lima hari, disertai nyeri otot, nyeri pada sendi dan nyeri kepala. Sehingga sampai saat ini penyakit tersebut masih merupakan problem kesehatan masyarakat dan dapat muncul secara endemik maupun epidemik yang menyebar dari suatu daerah ke daerah lain atau dari suatu negara ke negara lain (Hadinegoro dan Satari, 2002).
2.       Musim
Negara dengan 4 musim, epidemi DBD berlangsung padadingin. Di Asia Tenggara epidemi DBD terjadi pada musim hujan, seperti di Indonesia, Thailand, Malaysia dan Philippines epidemi DBD terjadi beberapa minggu setelah musim hujan. Periode epidemi yang terutama berlangsung selama musim hujan dan erat kaitannya dengan kelembaban pada musim hujan. Hal tersebut menyebabkan peningkatan aktivitas vektor dalam menggigit
karena didukung oleh lingkungan yang baik untuk masa inkubasi.
c.       Kondisi demografi (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk)
d.      Jenis nyamuk sebagai vektor penular penyakit
e.       Faktor gent yaitu sifat virus Dengue yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotipe yaitu Dengue 1,2,3,4.
Faktor lain penyebab penyebaran kasus DBD
Penularan DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya. Oleh karena itu tempat yang potensial untuk terjadi penularan DBD adalah:
a. Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis).
b. Tempat-tempat umum yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue yang cukup besar seperti: sekolah, RS/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, tempat umum lainnya (hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat ibadah dan lain-lain).
c. Pemukiman baru di pinggir kota, penduduk pada lokasi ini umumnya berasal dari berbagai wilayah maka ada kemungkinan diantaranya terdapat penderita yang membawa tipe virus dengue yang berbeda dari masing-masing lokasi.

2.5 Proses Penyembuhan Penyakit DBD ( Demam Berdarah Dengue)
Proses penyembuhan DBD dengan atau tanpa adanya shock  berlangsung singkat dan sering kali tidak dapat diramalkan. Bahkan dalam kasus syokstadium lanjut, segera setelah syok teratasi, pasien sembuh dalam waktu 3 hari. Timbulnya kembali selera makan merupakan prognostik yang baik.
Fase penyembuhan ditandai dengan adanya sinus beradikardia atau arimia jantung serta patekie yang menyeluruh.
2.6 Cara Mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mencakup antara lain:
a.       Terhadap Nyamuk Perantara
Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti induk dan telurnya
b.      Terhadap diri kita
Memperkuat daya tahan tubuh, Melindungi dari gigitan nyamuk
c.       Terhadap lingkungan
Mengubah perilaku hidup sehat terutama kesehatan lingkungan
Cara mencegah:
1.      Penyuluhan bagi Masyarakat
Dasar pencegahan demam berdarah adalah memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat bagaimana cara pemberantasan nyamuk dewasa dan sarang nyamuk yang dikenal pembasmian sarang nyamuk atau PSN. Demi keberhasilanbersama PSN harus dilakukan bersama seluruh elemen masyarakat.
2.      Cara Memberantas jentik nyamuk
Cara memberantas jentik nyamuk dilakukan dengan cara 3M:
a.       Kuras bak mandi seminggu sekali (Menguras)
b.      Tutup penyimpa air rapat-rapat (Menutup)
c.       Kubur kaleng dan ban bekas (Mengubur)
 
Gambar 5. 3M mencegah demam berdarah

3.      Pedoman Penggunaan bubuk Abate (Abatisasi)
a.       Satu sendok makan per  (10 gram) untuk 100 liter air
b.      Dinding bak mandi jangan di sikat setelah ditaburi bubuk abate
c.       Bubuk akan menempel di bak
d.      Bubuk abate tetap efektif sampai 3 bulan

Gambar 6. Penggunaan bubuk abate
                                              
Gambar 7. Fogging
4.      Cara Memberantas nyamuk dewasa
a.       Jangan menggantung baju bekas pakai
b.      Pasang kasa nyamuk pada ventlasi dan jendela rumah
c.       Lindungi bayi ketika tidur di pagi dan siang hari dengan kelambu
d.      Perhatikan kebersihan sekolah
e.       Pengasapan (fogging)















BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Banyaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah gondang I karena Wilayah tersebut rawan dengan genangan air sehingga memicu berkembangnya jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti. Selain itu diidentifikasikan faktor utama adalah kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal,Sehingga terjadi genangan air yang menyebabkan berkembangnya nyamuk.

3.2 Saran

Bagi Masyarakat
            Masyarakat harus merubah pola perilaku dan kebiasaan hidup yang tidak sehat yang memicu timbulnya penyakit.

Bagi Pemerintah
            Pemerintah harus secepatnya mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah bertambah meluasnya wabah DBD (Demam Berdarah Dengue).










DAFTAR PUSTAKA

Misnadiarly. 2009. Demam Berdarah Dengue (DBD). Jakarta: Pustaka Populer    
               Obor

Soedarto. 1996. Penyakit-Penyakit Infeksi di Indonesia. Surabaya: Widya medika   
               Surabaya

Widoyono. 2011. Penyakit Tropis. Jakarta: Erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar